IMAM SYAFI’I DAN IMAM HANBALI

 

IMAM SYAFI’I DAN IMAM HANBALI


Pada suatu hari Imam Syafi’I (150 -204 H.) berkunjung kerumah Imam Ahmad Bin Hanbal (164 -241 H), Imam Syafi’i merupakan guru dari imam hambali itu sendiri. Tak heran jika Imam Hambali sangat tawadhu’ dan hormat kepada Imam Syafi’i. keduanya merupakan tokoh dari empat madzhab fiqh.


Seampainya Imam Syafi’i di rumahnya Imam Ahmad Bin Hambali, beliau segera memberikan jamuan makan malam kepada gurunya itu, Setelah keduanya melakukan makan malam. Imam Syafi’i beristirahat didalam kamar. Kemudian pada esok harinya putri imam hambali bertanya pada beliau.

Duhai bapakku apakah orang laki-laki tersebut benar Imam Syafi’i yang telah sering engkau ceritakan…..?

“Iya anakku”, jawab Imam Hambali.

Lantas putri beliau berkata padanya ; sungguh aku telah mengetahui keanehan tiga perkara padanya, sesungguhnya Ketika kita memberikan hidangan makanan kepada beliau, ternyata beliau memakannya banyak. Kedua Ketika Imam Syafi’i masuk kamar beliau tidak beranjak bangun untuk melaksanakan sholat malam, ketiga Ketika beliau melaksanakan sholat subuh bersama kita, beliau sholat tanpa wudhu’.

Sesampai paginya Imam Ahmad Bin Hambali menghadap Imam Syafi’i untuk menanyakan tiga hal tersebut kepadanya, kemudian Imam Syafi’i berkata pada Imam Ahmad Bin Hambali ; Ya Ahmad, sungguh aku telah makan banyak, karena sesungguhnya aku menegtahui bahwa makananmu itu dari perkara yang halal.

Sesungguhnya kamu merupakan orang yang dermawan, sedangkan makanan orang dermawan itu bisa menjadi obat, sedang makanan orang pelit itu menjadi penyakit, saya tidak makan untuk mengenyangkan diri, namun saya makan untuk mengharap obat dari makananmu.

Dan sesungguhnya saya tidak melakukan sholat malam itu karena Ketika saya meletakkan kepalaku untuk tidur, saya melihat seakan-akan didepanku terdapat Al Qur’an dan hadist, kemudian Allah membukakan padaku 72 masalah dari ilmu-ilmu fiqh.

Saya mengharapkan bisa memberikan kemanfaatan kepada orang islam dengan menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Maka pada waktu itu tidak ada kesempatan bagiku untuk melakukan sholat malam.

Dan adapun sesungguhnya saya melakukan sholat subuh tanpa wudhu’, maka demi Allah kedua mataku tidak tertidur sehingga saya harus memperbarui wudhu’. Sungguh dalam sepanjang malam saya keadaan terjaga. Maka saya sholat subuh Bersama kalian dengan wudhu’ sholat isya’.



Sungguh mulia akhlak para Ulama’-Ulama’ terdahulu, banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran dari cerita diatas, meskipun Imam Ahmad Bin Hambali telah menjadi imam besar beliau tetap hormat terhadap gurunya, begitu pula beliau Imam Syafi’i sangat santun dalam setiap menjawab pertanyaan dari Imam Ahmad Bin Hambali yang telah menjadi pertanyaan bagi putrinya.

Awalnya putri Imam Ahmad Bin Hambali kurang begitu percaya dengan cerita-cerita keagungan dari Imam Syafi’i Ketika ia melihat langsung tiga hal yang di ketahuinya secara dhohir, namun Ketika Imam Syafi’i menjelaskan itu semua ia betul-betul kagum dengan sosok Imam Syafi’i yang selama ini telah di ceritakan oleh ayahnya.

Dan dari sini terdapat pesan bahwa bagi santri jangan sampai mengedepankan su’udzon dari apa yang telah dilihat dari gurunya sekilas dari dhohirnya. Karena itu akan menghilangkan rasa hormat kita terhadap sang guru.



"Manusia yang paling tinggi kedudukanya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya, dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan adalah mereka yang tidak melihat kelebihan dirinya."


Penulis By: Santri Pengabdian

 

Posting Komentar

0 Komentar

Slider Parnert